• Selasa, 31 Januari 2023

Pemimpin dan Perubahan

- Minggu, 4 Desember 2022 | 17:12 WIB
Faiz Manshur, Ketua Odesa Indonesia./IST
Faiz Manshur, Ketua Odesa Indonesia./IST


Faiz Manshur, Ketua Odesa Indonesia

Ada banyak sudut pandang  untuk menyebut seorang pemimpin. Tetapi satu hal yang perlu kita tekankan saat ini adalah pentingnya melihat seorang pemimpin sebagai pengubah keadaan.

Dengan demikian, bicara pemimpin dan kepemimpinannya kita akan masuk pada dimensi aktual terkait perubahan, bukan bicara sosok mistis seperti jenis manusia supranatural atau sosok formal seperti Kepala Desa, Bupati, Gubernur, Presiden dan sejenisnya.

Seorang pemimpin tidak harus intelektual karena banyak bukti ada banyak orang yang tak berpendidikan tetapi memiliki banyak pengikut.

Baca Juga: Cara Ganjar Pranowo Bina Desa Atasi Kemiskinan Diapresiasi

Tetapi pemimpin yang intelektual tentu saja lebih berkualitas. Seorang pemimpin tak harus kaya materi, tetapi jika ia miskin tentu saja merupakan sebuah kekurangan.

Seorang pemimpin juga tak harus pintar mendidik, tetapi jika tidak melakukan pendidikan maka ia memiliki kekurangan, yang mana gagasannya tak mampu memberi dampak berkelanjutan.

Seorang pemimpin mungkin bisa cukup dengan mengandalkan wibawa atau karisma tradisional, tetapi jika hanya berhenti pada tataran itu, maka biasanya ia hanya bermanfaat terbatas.

Dari sinilah maka penting kiranya kita menakar kepemimpinan. Ada tiga acuan untuk menilainya. Takaran kepemimpinan yang terukur itu ada tiga. 1) Visi 2) Misi dan 3) Bukti melakukan perubahan perbaikan.

Baca Juga: STB Sulit Didapat, Penjualan Kewalahan Memenuhi Permintaan

Memiliki visi (pandangan hidup) yang berorientasi pada usaha memperbaiki mentalitas hidup masyarakat sekaligus menjaga lingkungan/alam.

Dengan kata lain, predikat pemimpin yang baik/berkualitas mesti memiliki jiwa kemanusiaan (empati tinggi) dan sekaligus memiliki jiwa sebagai perawat lingkungan alam.

Akan menjadi cacat misalnya pada diri seorang pemimpin yang getol memperjuangkan lingkungan, tetapi tidak pernah menyentuh urusan lingkungan hidup dan bahkan membiarkan kerusakan lingkungan. Inilah yang masih lemah dalam masyarakat kita.
 
Contohnya ada pengusaha dengan jiwa leadership-nya mampu mewujudkan perusahaan dengan dampak baik karena terbukti mampu menolong ribuan orang dengan penyediaan lapangan kerja, namun tetap cacat karena perusahaan itu merusak lingkungan di sekitarnya.

Baca Juga: Hengki Kurniawan Penuhi Janji Politik, Infrastruktur Jalan Utama di Selatan Semakin Baik

Setelah kuat dalam urusan visi, langkah selanjutnya tentu saja pada kemampuan misi, atau menjalankannya secara konkret sehingga bisa mewujud manfaat yang nyata di masyarakat.

Hal ini sungguh penting karena muncul pertanyaan, apa gunanya menjadi orang pinter tetapi tak bermanfaat secara nyata mengatasi persoalan di masyarakat.  

Kita merasakan sendiri hal ini, banyak orang menjadi pakar atau spesialis tetapi ilmunya berada di pucuk cemara, sementara masalah nyata ada di akar cemara.

Jika seseorang hanya pinter, barangkali ia hanya bisa disebut intelektual, tetapi bukan pemimpin jika tidak bisa menahkodai kolektif (komunitas/organisasi/negara).

Baca Juga: Persija Jakarta Siap Hadapi 6 Laga Bubble di Liga 1

Tidak cukup disebut pemimpin yang bernilai pengubah keadaan kalau hanya menggerakkan kolektivitas, sebab yang terbaik dari seorang pemimpin itu adalah kemampuan menciptakan organisasi dan organisasi tersebut bisa menjadi mesin perubahan yang meluas dan berkelanjutan.

Apa gunanya jika ada kolektivisme dengan pemimpinnya, ada negara dengan pemimpinnya, tetapi kemiskinan dibiarkan, kebodohan ditutup-tutupi, dan keburukan berjalan terus tanpa kendali?

Kalau kita bicara inovasi, memang pemimpin yang baik adalah seorang inovator. Hakikat inovasi adalah, kemampuan mengatasi masalah atau mengubah yang buruk menjadi lebih baik.

Baca Juga: Berikut Rangkaian Prosesi Pernikahan Kaesang-Erina

Tidak pantas disebut inovator karena pemimpin itu hanya mampu menciptakan satu temuan teknologi tetapi teknologinya tidak mampu mengatasi problem di masyarakat.  

Tak layak disebut inovator kalau pemimpin politik itu hanya mampu merebut kursi kekuasaan sementara keadaan masyarakat tetap buruk.***

Editor: Brilliant Awal

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pasca-Konflik Rusia-Ukraina

Jumat, 27 Januari 2023 | 22:15 WIB

BIJB KERTAJATI DIJUAL?

Senin, 23 Januari 2023 | 08:53 WIB

Budi Dalton: Tanpa Komunikasi Tak Ada Popularitas

Minggu, 22 Januari 2023 | 05:44 WIB

Degradasi Moral Melalui Maraknya Dispensasi Nikah

Sabtu, 21 Januari 2023 | 10:12 WIB

Dana BOS Madrasah Swasta Tahun 2023 Segera Cair

Rabu, 18 Januari 2023 | 20:59 WIB

Gawai di Ruang Pendidikan 'Pisau Bermata Dua'

Sabtu, 14 Januari 2023 | 17:52 WIB

Reshuffle Kabinet

Jumat, 13 Januari 2023 | 19:45 WIB

Makanan Cepat Saji dan Kesehatan

Jumat, 13 Januari 2023 | 10:15 WIB
X